PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM
SEBAGAI DISIPLIN ILMU
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagaimana kita ketahui bahwa sumber utama pendidikan Islam adalah kitab suci
Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Serta pendapat para sahabat dan ulama atau
ilmuan muslim sebagai tambahan. Pendidikan Islam sebagai sebauah disiplim ilmu
harus membuka mata bahwa keadaan pendidikan yang terjadi saat ini jauh dari apa
yang kita harapkan. Kita mengaharapkan bahwa pendidika Islam memberika
kontribusi terhadap pendidikan yang terdapat di Indonesia, namun hal tersebut
belum terealisaikan dengan maksimal. Salah satu faktor yang menjadi penyebab
hal tersebut adalah tidak diterpakanny sebuah prinsip sebagai dasar dalam
pendidikan.
Seringkali sebuah prinsip hanya dijadikan sebagai sebuah formalitas saja.
Prinsip tidak dijadikan sebagai dasar atau pondasi bagai pencapaian sebuah
tujuan. Padahal dalam pencapaian tujuan yang digarapkan dalam pendidikan Islam,
keberadaan prinsip-prinsip sangatlah penting dan urgent.
Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan mencoba sedikit memaparkan
tentanng bagaimana sebuah prisnip-prinsip pendidikan islam sebagai displin ilmu
dan bagaiman kontribusinya.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah
1. Apa pengertian prinsip pendidikan Islam
2. Apa saja yang menjadi prinsip-prinsip dalam pendidikan Islam
3. Bagaiman bentuk prinsip pendidikan Islam sebagai disiplin ilmu
C. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan pembuatan makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian prinsip pendidikan Islam
2. Mengetahui prinsip-prinsip dalam Pendidikan Islam
3. Menegetahui bentuk prinsip pendidikan Islam sebagai disiplin ilmu
D. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam makalah ini terdiri atas tiga bab yaitu:
1. Bab I Pendahuluan yaitu membahas tentang latar belakang masalah, rumusan
masalah. Tujuan penulisan dan sistematika penulisan.
2. Bab II Pembahasan, yaitu membahas tentang pengertian prinsip pendidikan
Islam, prinsip-prinsip pendidikan Islam, dan prinsip-prinsip pendidikan Islam
sebagai disiplin ilmu.
3. Bab III Penutup, yaitu memberikan kesimpulan atas apa yang telah dipaparkan
dalam penjelasan makalah.
BAB II
PEMBAHASAN
PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI DISIPLIN ILMU
A. Pengertian Prinsip Pendidikan Islam
Prinsip bebrati asas atau kebenaran yang jadi pokok dasar orang berfikir,
bertindak dan sebagainya. Menurut Dagobert D. Runes yang di kutip oleh Syamsul
Nizar, mengartikan prinsip sebagai kebenaran yang bersifat universal (universal
trith) yang menjadi sifat dari sesuatu.
Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pendidikan adalah suatu proses penamaan
sesuatu ke dalam diri manusia mengacu kepada metode dan sistem penamaan secara
bertahap, dan kepada manusia penerima proses dan kandungan pendidikan tersebut.
Apabila dikaitkan dengan pendidikan, maka prinsip pendidikan dapat sebagai
kebenaran yang universal sifatnya dan menajdi dasar dalam merumuskan perangkat
pendidikan. Prinsip pendidikan diambil dari dasar pendidikan, baik berupa agama
atau ideologi negara yang dianut.
Prinsip pendidikan Islam juga ditegakan di atas dasar yang sama dan berpangkal
dari pandangan Islam secara filosofis terhadap jagad raya, manusia, masyarakat,
ilmu pengetahuan dan akhlak. Pandangan Islam terhadap masalah-masalah tersebut,
melahirkan berbagai prinsip dalam pendidikan Islam.
B. Pengertian Disiplin Ilmu
Kata ilmu berasal dari bahasa Arab, yakni “ilm” yang diartikan pengetahuan.
Dalam filsafat, ilmu dan pengetahuan itu berbeda, pengetahuan bukan berarti
ilmu, tetapi ilmu merupakan akmumulasi pengetahuan, sebagimana berbedanya
anatar science dan knowledge dalam bahasa Ingris.
Kata “ilm” dalam bahasa Arab menggunakan tiga huruf, yaitu huruf ‘ain, lam, dan
miem. Menurut Muhammad yang dikutip oleh Boedi Abdullah dalam buku filsafat
ilmu menjelaskan, bahwa tiga huruf itu mempunyai makna tersendiri, yakni:
1. Huruf ‘ain bentuknya didepan ibarat mulut yang posisinya selalu terbuka,
menandakan bahwa mencari ilmu pengetahuan itu tidak pernah kenyang.
2. Huruf lam sesudah ‘ain, panjangnya tidak terbatas. Boleh menjjulang kelangit
dan menjangkau cakrawala. Itu pertanda bahwa mencari ilmu tidak mengenal batas
usia.
3. Huruf terakhir adalah huruf miem, yang meletakan diri di dasar, menunduk
pertanda kefakiran ilmunya. Artinya, meskipun ilmu pengetahuan telah menjulang
tinggi, seorang yang alim harus rendah hati bagaikan ilmu padi.
C. Prinsip-prinsip Pendidikan Islam
Pandangan Islam yang bersifat filosofi terhadap alam jagat, manusia,
masyarakat, pengetahuan, dan akhlak, secra jelas tercermin dalam
prinsip-prinsip pendidikan Islam. Dalam pembelajaran, pendidik merupakan
fasilitator. Ia harus mampu memberdayagunakan beraneka ragam sumber belajar.
Dalam memimpin proses pembelajaran, pendidik perlu perlu memperhatikan
prinsip-prinsip dalam pendidikan Islam dan senantiasa mempedomaninya, bahkan
sejauh mungkin merealisasikannya bersama-sama dengan peserta didik. Adapun yang
menjadi prinsip-prinsip pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
1. Prinsip Integral dan Seimbang
a. Prinsip Integral
Pendidikan Islam tidak mengenal adanya pemisahan antara sains dan agama.
Keduanya harus terintegrasi secara harmonis. Dalam ajaran Islam, Allah adalah
pencipta alam semesta termasuk manusia. Allah pula yang menurunkan hukum-hukum
untuk mengelola dan melestarikannya. Hukum-hukum mengenai alam fisik disebut
sunatullah, sedangkan pedoman hidup dan hukum-hukum untuk kehidupan manusia
telah ditentukan pula dalam ajaran agama yang disebut dinullah yang mencakup
akidah dan syariah.
Dalam ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan, Allah memerintahkan agar
mansuia untuk membaca yaitu dalam QS Al-‘Alaq ayat-1-5. Dan ditempat lain
ditemukan ayat yang menafsirkan perintah membaca tersebut, seperti dalam Firman
Allah QS Al-Ankabut:
@ø?$# !$tB zÓÇrré& y7øs9Î) ÆÏB É=»tGÅ3ø9$#
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) (QS.
Al-Ankabut : 45)
Di sini, Allah memberikan penjelasan bahwa Al-Qur’an yang harus dibaca. Ia
merupakan ayat yang diturunkan Allah (ayat tanziliyah, qur’aniyah)
Selain itu, Allah memerintahkan agar manusia membaca ayat Allah yang berwujud
fenomena-fenomena alam (ayat kauniyah, sunatullah), anatara lain, “Katakanlah,
perhatikanlah apa yang ada dilangit dan dibumi”(QS. Yunus : 101)
Dari ayat-ayat di atas dapat dipahami bahwa Allah memerintahkan agar manusia
membaca Al-Qur’an (ayat-ayat quraniyah) dan fenomena alam (ayat kauniyah) tanpa
memberikan tekanan terhadap slah satu jenis ayat yang dimaksud. Hal itu berarti
bahwa pendidikan Islam harus dilaksanakan secara terpadu (integral)
b. Prinsip Seimbang
Pendidikan Islam selalu memperhatikan keseimbangan di antara berbagai aspek
yang meliputi keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara ilmu dan amal,
urusan hubungan dengan Allah dan sesama manusia, hak dan kewajiban.
Keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat dalam ajaran Islam harus menjadi
perhatian. Rasul diutus Allah untuk mengajar dan mendidik manusia agar mereka
dapat meraih kebahagiaan kedua alam itu. implikasinya pendidikan harus senantiasa
diarahkan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. hal ini senada dengan
FirmanAllah SWT:
Æ÷tGö/$#ur !$yJÏù 9t?#uä ª!$# u#¤$!$# notÅzFy$# (
wur [Ys? y7t7ÅÁtR ÆÏB $u÷R9$# (
“dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan)
duniawi” (Al-Qashas : 77)
Dalam dunia pendidikan, khususunya dalam pembelajaran, pendidik harus
memperhatikan keseimbangan dengan menggunakan pendekatan yang relevan. selain
mentrasfer ilmu pengetahuan, pendidik perlu mengkondisikan secara bijak dan
profesional agar peserta didik dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat di
dalam maupun di luar kelas.
2. Prinsip Bagian dari Proses Rububiyah
Al-Qur’an menggambarkan bahwa Allah adalah Al-Khaliq, dan Rabb Al-Amin
(pemelihara semesta alam). Dalam proses penciptaan alam semesta termasuk
manusia. Allah menampakan proses yang memperlihatkan konsistensi dan
keteraturan. Hal demikian kemudian dikenal sebagai aturan-aturan yang
diterpakan Allah atau disebut Sunnatullah.
Sebagaiman Al-Kailani yang dikutip oleh Bukhari Umar dalam bukunya menjelaskan,
bahwa peranan manusia dalam pendidikan secara teologis dimungkinkan karena
posisinya sebagai makhluk, ciptaan Allah, yang paling sempurna dan dijadikan
sebagai khalifatullah fi al-ardh.
Sebagai khalifah, manusia juga mengemban fungsi rubbubiyah Allah terhadap alam
semesta termasuk diri manusia sendiri. Dengan perimbangan tersebut dapat
dikatakan bahwa karakter hakiki pendidikan Isam pada intinya terletak pada
fungsi rubbubiyah Allah secara praktis dikuasakan atau diwakilkan kepada
manusia. Dengakn kata lain, pendidikan Islam tidak lain adalah keseluruhan
proses dan fungsi rubbubiyah Allah terhadap manusia, sejak dari proses
penciptaan samspai dewasa dan sempurna.
3. Prinsip Membentuk Manusia yang Seutuhnya
Manusia yang menjadi objek pendidikan Islam ialah manusia yang telah tergambar
dan terangkum dalam Al-Qur’an dan hadist. Potret manusia dalam pendidikan
sekuler diserhakan pada orang-orang tertentu dalam msyarakat atau pada seorang
individu karena kekuasaanya, yang berarti diserahkan kepada angan-angan
seseorang atau sekelompok orang semata.
Pendidikan Islam dalam hal ini merupakan usaha untuk mengubah kesempurnaan
potensi yang dimiliki oleh peserta didik menjadi kesempurnaan aktual, melalui
setiap tahapan hidupnya. Dengan demikian fungsi pendidikan Islam adalah menjaga
keutuhan unsur-unsur individual peserta didik dan mengoptimalkan potensinya
dalam garis keridhaan Allah.
Prinsip ini harus direalisasikan oleh pendidik dalam proses pembelajaran.
Pendidik harus mengembangkan baik kecerdasan intelektual, emosional maupun
spiritual secara simultan.
4. Prinsip Selalu Berkaitan dengan Agama
Pendidikan Islam sejak awal merupakan salah satu usaha untuk menumbuhkan dan
memantapkan kecendrungan tauhid yang telah menjadi fitrah manusia. Agama
menjadi petunjuk dan penuntun ke arah itu. Oleh karena itu, pendidikan Islam
selalu menyelenggrakan pendidikan agama. Namun, agama di sini lebih kepada
fungsinya sebagai sumebr moral nilai.
Sesuai dengan ajaran Islam pula, pendidikan Islam bukan hanya mengajarkan
ilmu-ilmu sebagai materi, atau keterampilan sebagai kegiatan jasmani semata,
melainkan selalu mengaitkan semuanya itu dengan kerangka praktik (‘amaliyyah)
yang bermuatan nilai dan moral. Jadi, pengajaran agama dalam Islam tidak selalu
dalam pengertian (ilmu agama) formal, tetapi dalam pengertian esensinya yang
bisa saja berada dalam ilmu-ilmu lain yang sering dikategorikan secara tidak
proporsional sebagai ilmu sekuler.
5. Prinsip Terbuka
Dalam Islam diakui adanya perbedaam manusia. Akan tetapi, perbedaan hakiki
ditentukan oleh amal perbuatan manusia (QS, Al-Mulk : 2), atau ketakwaan (QS,
Al-Hujrat : 13). oleh karena itu, pendidikan Islam pada dasarnya bersifat
terbuka, demokratis, dan universal. menurut Jalaludin yang dikutip oleh Bukhari
Umar menjelaskan bahwa keterbukaan pendidikan Islam ditandai dengan kelenturan
untuk mengadopsi unsur-unsur positif dar luar, sesuai dengan perkembangan dan
kebutuhan masyarakatnya, dengan tetap menjaga dasar-dasarnya yang original
(shalih), yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist.
6. Menjaga Perbedaan Individual
Perbedaan individual antara seorang manusia dengan orang lain dikemukakan oleh
Al-Qur’an dan hadist. Sebagai contoh:
ô`ÏBur ¾ÏmÏG»t#uä ß,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ß#»n=ÏG÷z$#ur öNà6ÏGoYÅ¡ø9r& ö/ä3ÏRºuqø9r&ur 4
•bÎ) Îû y7Ï9ºs ;M»tUy tûüÏJÎ=»yèù=Ïj9 ÇËËÈ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan
berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”. (QS. Ar-Rum
: 22)
Perbedaan-perbedaan yang dimiliki manusia melahirkan perbedaan tingkah laku
karena setiap orang akan berbuat sesuai dengan keadaanya masing-masing. Menurut
Asy-Syaibani yang dikutip oleh Prof. Dr. H. Ramayulis menjelaskan bahwa
pendidikan Islam sepanjangs sejarahnya telah memlihara perbedaan individual
yang dimilki oleh peserta didik.
7. Prinsip Pendidikan Berlangsung Sepanjang Hayat
Islam tidak mengenal batas akhir dalam menempuh pendidikan. Hal tersebut
mengingat tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan Islam adalah terbentuknya
akhlak al-karinah. Pembentukan itu membutuhkan waktu yang panjang, yaitu
sepanjang hayat manusia.
Pendidikan Islam yang bersumber dari wahyu dan diterapkan oleh Rasulullah SAW
telah sejak lama mengenal konsep pendidikan seumur hidup. Konsep ini pula yang
diterapakan dalam sistem pendidikan Islam, konsep pendidikan tanpa batas usia.
Selain itu dalam buku Ilmu Pendidikan Islam yang ditulis Prof. Dr. H. Ramayulis
menjelaskan bahwa yang menjadi prinsip-prinsip pendidikan Islam itu diantaranya
adalah.
1. Prinsip pendidikan Islam merupakan implikasi dari karakteristik manusia.
2. Prinsip pendidikan Islam adalah pendidikan integralsi
3. Prinsip pendidikan Islam adalam pendidikan yang seimbang
4. Prinsip pendidikan Islam adalah pendidikan universal
5. Prinsip pendidikan Islam adalah dinamis.
Tidak hanya itu, Prinsip pendidikan
islam paling tidak mengacu kepada lima Aspek:
1. selalu mengacu kepada Al-Qur’an dan Hadist
Al-Qur’an dan Hadist merupakan sumber utama dalam pendidikan islam, mungkin
lebih baiknya pendidikan islam ini supya mempunyai wacana guna mencetak insan
kamil, sangat perlu ditambah dengan Istimbath dan Ijtihad para ulama yang tidak
bertentangan dengan Al-qur’an dan Hadist. Maka dari itu pendidik dan peserta
didik harus paham kepada kandungan Al-Qur’an dan Hadist. Ketika ada pendapat
dan bertentangan dengan keduanya, bila suatu ajaran itu tidak sesuai dengan isi
Al-qur’an dan hadist, seharusnya pendidikan tidak boleh menerimanya sebagai
acuan.
2. Selalu mengarah kepada dunia dan akhirat
Baik dalam Al-Qur’an dan Hadist tidak ada yang menganjurkan menjauhi kehidupan
dunia, karena al-Qur’an sendiri menuntut kita untuk berzakat dan bersedekah,
bagaimana hal tersebut bisa tercapai kalau kita tidak berharta. Memang hidup di
dunia hanyalah sementara, semuanya akan musnah tapi perlu diingat, Justru
dengan kehidupan sekejap itulah kita dianjurkan mengejar kesuksesan dunia,
untuk berlomba-lomba didalam menggapai amal shaleh sebagai bekal untuk
keakhirat nanti, bukan menjauh dari dunia seperti layaknya orang-orang yang
mengasingkan diri dari kahidupan sosial.
3. Bersifat teoritis dan praktis
Pendidikan isalm tidak cukup hanya menyampaikan teori, karena tujuan materi itu
tidak lain untuk dilaksanakan guna mencapai amal yang tinggi disisi Allah. Maka
dari itu untuk mencapai pengamalan yang sempurna hendaklah para peserta didik
melaksanakan apa yang diajarkan kepada peserta didik. Dan Uswatun Hasanah harus
menjadi pedoman yang utama di dalam hidupnya. Tidak ada satupun didalam
pendidikan yang hanya berorientasi kepada materi saja.
4. Sesuai dengan potensi yang dimiliki manusia
Pendidikan islam bersifat fleksibel, maka dari itu pendidikan islam harus
sesuai dengan potensi manusia karena setiap manusia mempunyai potensi yang
berbeda.
potensi manusia mempunyai beberapa hal. Yaitu Homo rasional ( manusia sebagai
pemikir), dengan potensi inilah pendidikan islam harus menganjurkan kepada
manusia untuk selalu berpikir secara mendalam dan kritis, dengan pengertian
manusia harus menggunakan akalnya dengan seoptimal mungkin. Sehingga dapat
menghasilkan karya-karya yang dapat diambil manfaat oleh umat muslim yang lain.
Disamping itu manusia sebagai Homo religius ( manusia sebagai makhluk
beragama), hal ini merupakan yang terpenting dalam kehidupan. pendidikan islam
harus memotivasi umatnya untuk selalu memperkuat imannya.
5. Berorientasi pada hamlum Minallah Wa Hamlum Minannas
D. Prinsip Pendidikan Islam Sebagai
Disiplin Ilmu
Sebagai disiplin ilmu, pendidikan islam bertugas pokok mengilmiahkan wawasan
atau pandangan tentang kependidikan yang terdapat di dalam sumber-sumber
pokoknya dengan bantuan dari pendapat para sahabat dan ulama/ilmuwan muslim.
Dunia ilmu pengetahuan yang akademik telah menetapkan norma-norma,
syarat-syarat dan kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu ilmu yang
ilmiah. Persyaratan keilmuwan yang ditetapkan itu nampak terlihat sekuler,
dalam arti bahwa mengilmiahkan suatu pandangan/konsep dalam banyak seginya,
yang melibatkan nilai-nilai ke-Tuhanan dipandang tidak rasional, tapi metafisik
dan tidak dapat dijadikan dasar pemikiran sistematis dan logis. Nilai-nilai
ke-Tuhanan berada di atas nilai keilmiahan dari ilmu pengetahuan. Agama adalah
bukan ilmu pengetahuan.
Sebagai suatu disiplin ilmu, pendidikan islam merupakan sekumpulan ide-ide dan
konsep-konsep intelektual yang tersusun dan diperkuat melalui pengalaman dan
pengetahuan. Jadi mengalami dan mengetahui merupakan pengokoh awal dari
konseptualisasi itu. Untuk itu Adam diajar nama-nama benda terlebih dahulu
sebagai dasar konseptual bagi pembentukan ilmu pengetahuan.
Dengan demikian maka ilmu pendidikan islam dapat dibedakan antara ilmu
pendidikan teoritis dan ilmu pendidikan praktis.
Ada tiga komponen dasar yang harus dibahas dalam teori pendidikan islam yang
pada gilirannya dapat dibuktikan validitasnya dalam operasionalisasi. Tiga
komponen dasar itu ialah:
1. Tujuan pendidikan islam harus dirumuskan dan ditetapkan secara jelas dan
sama bagi seluruh umat islam sehingga bersifat universal. Tujuan pendidikan
islam adalah azasi karena ia sebegitu jauh menentukan corak metode dan materi
pendidikan islam. Tujuan pendidikan islam yang universal itu telah dirumuskan
dalam Seminar pendidikan Islam se-Dunia di Islamabad pada tahun 1980 yang
disepakati oleh seluruh ulama ahli pendidikan islam dari Negara-negara islam.
2. Metode pendidikan islam yang kita ciptakan harus berfungsi secara efektif
dalam proses pencapaian tujuan pendidikan islam itu.
3. Irama gerak yang harmonis antara metode dan tujuan pendidikan dalam proses
akan mengalami vakum bila tanpa kehadiran nilai atau idea.
Konsepsi Al-Quran tentang ilmu
pengetahuan, tidak membeda-bedakan antara ilmu pengetahuan agama dan umum.
Kedua jenis ilmu pengetahuan itu merupakan kesatuan yang tidak dapat
dipisah-pisahkan, karena semua itu adalah merupakan manifestasi dari ilmu
pengetahuan yang satu yaitu ilmu pengetahuan Allah. Oleh karena itu dalam islam
tidak dikenal adanya ilmu pengetahuan yang religious dan non-religius
(sekuler).
Pendidikan islam sebagai disiplin ilmu telah mempunyai modal dasar yang
potensial untuk dikembangkan sehingga mampu berperan dijantung masyarakat
dinamis masa kini dan mendatang. Pendidikan islam saat ini masih berada pada
garis marjinal masyarakat, belum memegang peran sentral dalam proses
pembudayaan umat manusia dalam arti sepenuhnya. Untuk itu ilmu pendidikan islam
yang menjadi pedoman opersionalisasi pendidikan islam perlu dikembangkan sesuai
dengan persyaratan yang ditetapkan dalam dunia akademik yaitu:
1. Memiliki objek pembahasan yang jelas dan khas pendidikan islami meskipun memerlukan
ilmu penunjang dari yang non-Islami.
2. Mempunyai wawasan, pandangan, asumsi, hipotesa, serta teori dalam lingkup
kependidikan islami yang bersumberkan ajaran islam.
3. Memiliki metode analisis yang relevan dengan kebutuhan perkembangan ilmu
pendidikan yang berdasarkan islam, beserta sistem pendekatan yang seirama
dengan cocok keislaman sebagai kultur dan revilasi.
4. Memiliki struktur keilmuan yang sistematis mengandung totalitas yang
tersusun dari komponen-komponen yang saling mengembangkan satu sama lain yang
menunjukkan kemandiriannya sebagai ilmu yang bulat.
Oleh karena suatu ilmu yang ilmiah
harus bertumpu pada adanya teori-teori, maka teori-teori pendidikan islam juga
harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Teori harus menetapkan adanya hubungan antara fakta yang ada.
2. Teori harus mengembangkan sistem klasifikasi dan struktur dari
konsep-konsep.
3. Teori harus dapat mengikhtisarkan berbagai fakta.
4. Teori harus dapat meramalkan fakta atau kejadian-kejadian
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pemaparan dia atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa ilmu pendidikan islam
sebagai sebuah disiplin ilmu harus senantiasa berpegang kepada prinsip-prinsip
pendidikan islam yang bersumber dari al-Qur’an, hadist, ijma dan qiyas. Hal itu
disebabkan, karean apabila sebuah disiplin ilmu tidak memilki prinsip khsusuya
prinsip pendidikan Islam tersebut, maka dikahawatirkan akan terjadinya
sekularisasi dan liberalisasi pendidikan.
Pendidikan Islam sebagai disiplin ilmu juga harus senantiasa mampu mengilmiahkan
wawasan atau pandangan tentang kependidikan yang terdapat di dalam
sumber-sumber pokoknya dengan bantuan dari pendapat para sahabat dan
ulama/ilmuwan muslim. Oleh karenanya kita sebagai insan akademika yang terdapat
dalam sebuah lembaga pendidikan harus lebih mengoptimalkan daya fikir dan
mental untuk menatap pendidikan ke depan yang lebih maju.
Daftar Pustaka
Arifin, H.M, 2000 . Kapita Selekta
Pendidikan (Islam & Umum), Jakarta: Bumi Aksara
Ramayulis & Syamsul Nizar. 2010, Filsafat Pendidikan Islam (Telaah sistem
pendidikan dan pemikiran para tokohnya), Jakarta: Kalam Mulia
Bukhari Umar, 2010. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : AMZAH
Abdullah, Boedi, 2009. Filsafat Ilmu (Kontempalsi Filosofis tentang Seluk-Beluk
Sumber dan Tujuan Ilmu Pengetahuan), Bandung: CV Pustaka
Poerwadinta, W.J.S, 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka
Badaruddin, Kemas, 2007. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar